Wednesday, 11 February 2015
Motivasi Hari Ini
"Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, melainkan orang tersebut berusaha merubahnya sendiri"
Tuesday, 10 February 2015
Monday, 9 February 2015
Perjalanan Singkat Tentang Bagaimana Menjadi Seorang Dokter ( True Story) SERI 1
Pada kesempatan yang baik ini
saya ingin berbagi tentang bagaimana perjalanan tentang mendapatkan gelar
dokter. Ya, saya menceritakan perjalanan ini karena saya telah resmi
mendapatkan gelar Dokter (dr.). Jadi tulisan disini bukan tulisan mengada-ngada
tanpa bukti yang jelas.
Dulu, waktu kecil, orang tua saya
berpesan, “Jika kamu ditanyakan tentang cita-citamu, jawablah bahwa kamu ingin
menjadi seorang dokter!”, pesan kedua orang tuaku. Aku hanya mengangguk dan
berkata, “Baik mama dan papa!”. Selama sekolah di SD entah berapa ratus kali
aku menjawab bahwa cita-citaku adalah seorang dokter tanpa ada bayangan apa sih
hebatnya dokter? Kenapa harus dokter?
Kebetulan aku memang sudah di didik oleh ayahku sebagai sosok yang dituntut bekerja keras dan pantang menyerah. Ayahku kuakui sebagai seorang pekerja keras dan bertanggung jawab. Mungkin orang menganggapku ini penilaian subjektif tapi aku tak peduli. Ayah seorang pekerja keras dan sangat bertanggung jawab kepada keluarganya, ini objektif! Aku tak bisa merinci betapa banyaknya pengorbanan ia untuk anak-anaknya, berapa banyaknya tumpahan keringat yang mencucur dari tubuhnya. Aku yang melihat dari mata kepalaku sendiri! Akhirnya aku tertular semangat sebagai seorang pekerja keras walau hanya 1% dari semangat ayah.....hehehe
Ayah terus memotivasiku. Walau
waktu ayah tak banyak tetapi arahannya mengena. Langsung “JLEB!” secara
istilah. Lulus SD aku bertekad masuk ke SMP terbaik di provinsiku, SMP N 2
Bandar Lampung. Alhamdulillah tercapai. Lulus SMP akupun bertekad masuk ke SMA
terbaik di provinsiku; SMA N 2 Bandar Lampung. Dan karena nilai masuk SMA-ku
termasuk fantastis sehingga memenuhi syarat memasuki Seleksi Siswa Program
Akselerasi, ayah kembali mendorongku (walaupun sebenarnya saya males banget
karena takut kehilangan masa-masa muda..hehehe) dan Alhamdulillah saya diterima
di Program Akselerasi.
Selesai masa SMA, aku sebenarnya
tetap tidak memahami apa sih “hebatnya” seorang dokter. Kenapa harus dokter?
Kenapa? Let it flow...fikirku...Saya menerima pengarahan dari ayah dan ibu dan
Alhamdulillah saya tidak merasa ada keterpaksaan dan merasa “mampu”. Orang tua
pun Alhamdulillah mampu secara finansial. Untuk menjadi seorang dokter tidak
bisa dipungkiri harus memiliki kemapanan kemampuan berimbang anak dan orang
tua. Dua faktor yang saling berkait seperti rantai..
Oke berarti target saya selanjutnya
adalah FAKULTAS KEDOKTERAN dan ayah mengarahkan di FK terbaik di Provinsi ini. Lamaran melalui Jalur prestasi tidak lulus dan
pada akhirnya aku berjuang melalui jalur SPMB (waktu itu..). Seperti biasa
perjuangan itu gak selalu mudah. Waktu itu untuk lolos SPMB aku belajar dari
jam 7 pagi hingga jam 3 subuh. Begitu terus-menerus berulang disertai doa. Fikirku
masa itu,”masa’ sih Tuhan sedemikian gak luluh akan ikhtiarku? ”Ya! Jika
prosesnya baik maka hasilnya baik! Aku Lolos!! Diterima di FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG. Alhamdulillah.... berlanjut ke seri 2..
Thursday, 5 February 2015
Pengalaman bertemu pasien SKABIES.
Seorang anak usia 11 tahun datang
ke Poli Kulit RSAM dengan keluhan gatal-gatal. Pasien mengeluh gatal-gatal yang
meningkat terutama malam hari. Keluhan ini sudah berlangsung sejak 7 hari
belakangan ini. Keluarga bocah juga mengatakan bahwa kakak pasien juga
mengalami keluhan yang sama namun masih “bisa bertahan” di rumah. Pada akhirnya
bocah tersebut duluanlah yang “kalah” pertahanannya untuk tidak berobat ke
dokter. Akhirnya ia berangkat ditemani sang ibu untuk berobat.
Percakapan itu
secara singkat berlangsung seperti ini:
“Selamat pagi Ibu dan Adik! Perkenalkan saya dokter Chandra,
saya dokter yang sedang bertugas di Poli Kulit RSAM”, sapaku
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Begini dok, anak saya ini mengeluh gatal-gatal”, ucap sang
ibu
“Sudah berapa lama?”, tanyaku
“Sudah seminggu ini loh dok, kakaknya juga mengeluh
gatal-gatal juga”, timpal sang ibu lagi
“Oh sudah seminggu, kapan gatalnya meningkat bu? Maksud saya
adakah kondisi yang menyebabkan gatalnya meningkat atau berkurang?”, tanyaku
lagi
“Ini dok, biasanya malam hari agak gatal”, jawab ibu.
“Bu maaf, kakaknya dia ini bersekolah dimana?”, tanyaku
“Di pesantren dok, teman-teman satu pesantrennya juga
mengalami gatal-gatal”, jawab ibu
Kemudian berlanjutlah berbagai percakapan singkat yang tidak
mungkin dituliskan semua karena panjangnya..hehehe..Dalam pikiran ini sudah
mulai tergambar arah diagnosis. Perhatian mulai difokuskan kepada pasien.
“Adik, coba kakak
lihat ya tempat yang terasa gatal-gatal?”
Anak tersebut “menyerahkan” kedua tangannya.
Anak tersebut berujar, “Pak Dokter..Ini tangan saya kalau
malam gatal banget, udah digaruk-garukin masih aja gatal-gatal. Nggak tahan Pak Dokter. Tapi Jangan disuntik ya!
Nanti saya kabur kalau disuntik!”, pesannya dengan polos.
Memang tampak bentol-bentol kemerahan di sekujur tangannya
disertai lecet-lecet karena garukan. Dari arah pembicaraan sudah menuju ke
suatu arah diagnostik.
Menegakkan diagnosis
Cara menegakkan diagnosis skabies adalah dengan menemukan 2
dari 4 tanda kardinal (utama)
1. Pruritus Nokturnal; Gatal meningkat pada malam hari
2. Menyerang berkelompok
3. Ditemukan tungau
4. Ditemukan terowongan di lokasi tubuh, bisa lurus atau
kelok-kelok
Pada pasien ini saya mendapatkan data tentang adanya
pruritus nokturnal dan menyerang berkelompok. Akhirnya bocah ini saya diagnosis
sebagai penderita skabies. Sederhana sekali.
Sesi Edukasi
Mengedukasi pasien merupakan pilar penting dalam
menatalaksana.
“Ibu, jadi anak ibu mengalami apa yang disebut skabies.
Skabies ini adalah penyakit kulit yang menular. Penyakit in disebabkan tungau.
Tungaunya bernama “Sarcoptes Scabei”.
“Nah, agar sembuh pengobatannya harus menyeluruh. Nanti
kakak nya yang gatal-gatal juga diobati ya bu! Skabies ini bisa menular lewat
pakaian, handuk, bantal, seprai atau kalau kulit bersentuhan, jadi dipisahkan
ya bu adik sama kakaknya, jangan nempel-nempelan terus. Hehehe....”
Kemudian saya menjelaskan beberapa hal lain yang dianggap
penting dan meresepkan obat.
Sang ibu mengangguk tanda mengerti. Ia mengerti dan
berterimakasih, berjanji akan mematuhi nasehat.
Semoga lekas nggak gatal-gatal lagi ya dik! Karena gatal itu sungguh
menyiksa loh! Hehehe.....
Thursday, 22 January 2015
Saturday, 3 January 2015
KONTRASEPSI
15 Macam Metode Kontrasepsi yang
Paling Sering Digunakan
Kontrasepsi merupakan suatu usaha
untuk mencegah terjadinya proses pertemuan sel sperma dan sel ovum (telur). Ada
beberapa metode yang paling sering digunakan dan terbukti mujarab. Pada
kesempatan yang baik ini, saya akan memberikan gambaran besar tentang ke-15
metode ini. Adapun penjelasan masing-masing metode secara terperinci akan saya
posting selanjutnya.
1. Metode Kontrasepsi dengan Menggunakan
Caps (Servical Caps/ Topi leher rahim)
Yakni dengan cara memasang
semacam “topi” pada saluran reproduksi.
2. Pil Kombinasi
Yakni dengan meminum pil secara
rutin. Pil yang diminum mengandung hormon progesteron dan esterogen
![]() |
3. Kondom Wanita
Yakni dengan memasang kondom.
![]() |
4. Kondom Pria
Yakni dengan memasang kondom.
![]() |
![]() |
5. Kontrasepsi Implant
Lebih dikenal sebagai kontrasepsi
susuk, melalui prosedur bedah minor.
![]() |
![]() |
6. Kontrasepsi Suntik
Menyuntikkan hormon
7. Kontrasepsi Koyo
8. Diafragma
9. Intra Uterine Device/IUD
10. Intra Uterine System/IUS
11. Perencanaan Secara Alami
12. Pil Progesteron
13. Vaginal Ring/ Cincin Vagina
14. Sterilisasi Terhadap Wanita
15. Sterilisasi Terhadap Pria
Wednesday, 31 December 2014
CERITA-KU
CERITA-KU
Tahun 2014 akan segera berakhir dalam beberapa jam lagi.
Tahun ini tahun yang cukup fantastis bagi saya (hehehe...alay...). Beberapa hal
cukup mengecewakan walaupun banyak juga pencapaian...
Sekarang saatnya mengevaluasi perjalanan selama setahun
belakangan ini dan melanjutkan perjuangan. Harus lebih baik di 2015!
#biargreget #terlalumainstream
Subscribe to:
Posts (Atom)

























